SIKAP ANAK TERHADAP IBUNYA.

”Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.
Kiranya tidak ada seorang manusia di dunia ini, yang sudah menanggung sengsara, beban penderitaan, susah payah, menahan perut, menahan mata, menahan pedih dan sebagainya kecuali seorang ibu yang sedang mengandung, melahirkan, menyusui dan membesarkan putra putrinya. Besarnya kesusahan yang telah dirasakan oleh seorang ibu, dari masa mengandung hingga menjadikan putra putrinya hidup mandiri, tidak bisa dilukiskan ataupun diceritakan dengan kata-kata mutiara apalagi dipermudah-mudahkan.
Untuk itu tepatlah jika Allah menganjurkan seorang anak untuk berbakti kepada ibunya, melalui firman_Nya dalam Al Qur'an:
وَوَصَّيْنَا الْاِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ اِحْسَانًا حَمَلَتْهُ كُرْهَا.
”Dan Kami telah perintahkan manusia untuk berbuat baik kepada ibu bapaknya. Ibunya telah mengandungnya dengan kepayahan dan melahirkannya dengan kepayahan pula”. (QS. Al-Ahqaf : 15).
Demikian besar jasa seorang ibu terhadap putra putrinya dan dan begitu tinggi, baik ditinjau dari sisi agama maupun secara logika. Sehingga sudah selayaknyalah apabila seorang anak menunjukkan sikap rasa terimakasih kepada ibunya dengan jalan memberikan suatu kesenangan ataupun dengan hormat dan patuh kepadanya.
Rasulullah Saw. bersabda:
اَعْظَـمُ النَّاسِ حَقًّا عَلَى ارَّجُلِ اُمَهُ .
”Orang yang mempunyai sebesar-besarnya hak atas seorang anak adalah ibunya”. (HR. Hakim).
Hadits di atas menyatakan bahwa seorang ibu mempunyai hak atas kemampuan seorang anak. Seberapa besar kesenangan yang telah diberikan seorang anak kepada ibunya, jangan sekali-kali sang anak merasa berbesar hati sudah membalas jasanya.
Hendaknya seorang anak harus ingat, bahwa seorang ibu memelihara putra putrinya dengan hati yang tulus dan ikhlas, tanpa adanya unsur paksaan sedikitpun. Akan tetapi ternyata masih ada seorang anak yang merawat ibunya dengan perasaan terpaksa, dengan merasa berat, bahkan kadang-kadang menunjukkan muka yang payah dan sikap yang tidak senang ataupun marah.
Tidak menutup kemungkinan akan dijumpai di dunia ini seorang anak yang bersedia merawat ibunya, antara ucapannya bertolak belakang dengan kata hatinya: ”Baiklah aku pelihara ibuku dengan sungguh-sungguh karena tidak lama lagi ia akan meninggal”. Kenyataan ini diriwayatkan oleh sebuah hadits Rasulullah Saw.
Pada suatu masa datang seorang laki-laki kepada Rasulullah Saw., lalu bertanya: ”Ya Rasulullah! Saya ada mempunyai seorang ibu. Saya gendong dia di belakang saya. Tidak pernah saya masam muka kepadanya. Saya serahkan kepadanya pencarian saya. Sudahkah saya membalas budinya?” Sabda Rasulullah: ”Tidak! walaupun satu nafas panjangnya”. Orang itu bertanya : ”Mengapa begitu Ya Rasulullah?”. Jawabnya : ”Karena ibumu memelihara kamu, akan suka engkau panjang umur, akan tetapi engkau memelihara dia, padahal engkau suka dia mati”. (HR. Abul Hasan Al-Mawardi)
Sikap seperti ini seharusnya dihindari. Dalam kondisi apapun hendaknya senantiasa seorang anak selalu dekat dengan ibunya. Jadikanlah seorang ibu itu menjadi seorang sahabat sejati yang lebih dari yang lain. Dan hindarkanlah meninggalkan tempat (negeri) tanpa ijinnya. Hal ini sesuai dengan hadits Rasulullah Saw.
1. Pada suatu masa datang seseorang kepada Rasulullah Saw. lalu bertanya: ”Siapakah yang lebih pantas mendapat persahabatan yang baik dari saya?” Sabda Rasulullah Saw. : ”Ibumu”. Ia bertanya: ”Kemudian selain itu siapa?” Jawabnya: ”ibumu”. Ia bertanya : ”ibumu”. Ia bertanya: ”Kemudian selain itu siapa?” Jawabnya : ”Ayahmu”. (HR. Bukhari dan Muslim).
2. Ada seorang minta ijin kepada Rasulullah Saw. hendak turut perang, maka Rasulullah bertanya: ”Adakah engkau mempunyai ibu?” . Jawabnya: ”Ada”. Maka Rasulullah bersabda: ”Jagalah ibumu, karena surga itu ada dibawah kaki ibu”. (HR. Ibnu Majah).
Apabila pada suatu saat, seorang anak diperintah oleh ibu dan ayahnya dalam waktu yang bersamaan, maka hendaklah mendahulukan perintah ibu dari pada perintah ayahnya.
Rasulullah Saw bersabda:
إِذَا دَعَاكَ أَبوَاكَ أَجِبْ أُمُّكَ .
”Apabila engkau dipanggil oleh ibumu dan ayahmu dalam waktu yang bersamaan, hendaklah engkau datang dahulu kepada ibumu”. (HR. Dailami).
Tidak hanya sebatas perintah sebagaimana tersebut di atas. Agama Islam mengajarkan, seorang anak wajib menolong ibunya di hal kedunian, walaupun ibunya pemeluk agama lain, sekalipun penyembah berhala. Karena ada riwayat yangmengatakan.
Telah berkata Siti Asma' binti Abi Bakr kepada Rasulullah Saw. : "Ibu saya penyembah berhala, datang kepada saya minta pertolongan, bolehkah saya menolong dia ?”. Rasulullah menjawab : ”Jangan engkau putuskan perhubungan ibumu”. (HR. Bukhari).
Diriwayatkan bahwa Aisyah radhiyallahu 'anha bertanya kepada Rasulullah, "Siapakah yang berhak terhadap seorang wanita?" Rasulullah menjawab, "Suaminya." (apabila sudah menikah). Aisyah bertanya lagi, "Siapakah yang berhak terhadap seorang laki-laki?" Rasulullah menjawab, "Ibunya." (HR. Muslim).
